Perambahan Ilegal Menggila, Hutan Lindung Bawakaraeng–Lompobattang Rusak Parah

Senin, 15 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kawasan Hutan Lindung Bawakaraeng–Lompobattang

Kawasan Hutan Lindung Bawakaraeng–Lompobattang

Gedor.id– Kawasan Hutan Lindung Bawakaraeng–Lompobattang kini berada dalam kepungan mafia hutan. Aktivitas perambahan ilegal terus berlangsung secara masif, sementara aparat penegak hukum dan pejabat kehutanan di Sulawesi Selatan diduga abai, bahkan memilih tutup mata terhadap kerusakan yang kian parah.

Desa Erelembang, Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa—yang beberapa hari lalu digerebek langsung oleh Wakil Bupati Gowa bersama Kapolres Gowa AKBP Muh Aldy Sulaeman—disebut hanya satu dari sekian banyak titik perambahan hutan yang dilakukan secara sporadis namun terorganisir.

“Erelembang itu hanyalah puncak gunung es. Di baliknya, ada praktik keserakahan yang melibatkan oknum aparat kehutanan yang diduga bekerja sama dengan sejumlah pihak untuk merampok dan mencaplok kawasan hutan Gowa,” tegas aktivis lingkungan hidup, Mudri Walker, Minggu (14/12/2025).

BACA JUGA :  Hanya 12 Menit! Motor Warga di Toddopuli Makassar Hilang, Warga Diminta Waspada

Kritik serupa disuarakan Sudirman, pendaki gunung senior Sulawesi Selatan. Ia menyebut kerusakan hutan di kawasan Tombolo Pao telah berada pada tahap mengkhawatirkan.

“Area Hutan Lindung Lankoa kini nyaris lenyap. Ratusan hektare hutan sirna tanpa jejak. Aparat hukum, khususnya polisi kehutanan, gagal menjalankan amanah dan tanggung jawabnya,” ujar Sudirman.

Menurut keduanya, perambahan juga terjadi hampir di sepanjang jalur menuju puncak Gunung Bawakaraeng hingga Lompobattang.

“Jalur pendakian Hutan Lindung Bawakaraeng–Lompobattang kini berubah menjadi surga perambah. Alat berat bebas beroperasi, sementara aparat kembali memilih diam,” ungkap mereka.

BACA JUGA :  Solidaritas Rakyat Soroti Dugaan Korupsi Pengadaan Bibit Nanas Rp60 Miliar

Meski demikian, langkah awal Pemkab Gowa melalui Wakil Bupati dinilai memberi secercah harapan bagi para aktivis lingkungan.

Namun, harapan itu dinilai belum cukup jika tak disertai komitmen jangka panjang.

“Program penghijauan selama ini lebih banyak bersifat pencitraan. Setelah pejabat datang dan menanam bibit, tidak ada pemeliharaan lanjutan. Hutan dibiarkan kembali rusak,” kritik Hirsan Bachtiar, aktivis lingkungan senior Gowa.

Ketiga aktivis tersebut mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersatu mengawal program penyelamatan lingkungan yang menjadi agenda nasional Presiden Prabowo.

“Ini saatnya rakyat Gowa bersatu menjalankan perintah presiden untuk menyelamatkan kawasan hutan. Mafia lingkungan menang karena mereka terorganisir. Maka warga juga harus bergerak secara terorganisir untuk melawan,” tegas mereka.

BACA JUGA :  Uang Negara Diduga Disalahgunakan, SMK 5 Gowa Diterpa Skandal

Pasca bencana alam yang melanda tiga provinsi di Pulau Sumatera, kesadaran masyarakat Gowa untuk menyelamatkan hutan Bawakaraeng–Lompobattang kian menguat.

Di tingkat akar rumput, gelombang perlawanan terhadap mafia hutan mulai menggema.

Ratusan aktivis lingkungan dari berbagai latar belakang profesi menyatakan komitmennya membentuk konsorsium bersama guna mengidentifikasi dan membongkar jaringan mafia hutan yang beroperasi di Gowa.

“Insya Allah konsolidasi sudah berjalan. Kami pastikan seluruh aktivis Gowa berada dalam satu barisan untuk mengawal dan mendukung penuh program Presiden Prabowo,” pungkas Hirsan Bachtiar.

Editor : Darwis

Berita Terkait

Gelombang Protes di Kolaka Utara, Polisi Didesak Tindak Mafia Solar
Dugaan Pembiaran Menguat, Gowa Terancam Jadi Sarang Judi Terbuka
Ngeri! Tanda Tangan Diduga Dipalsukan, Emas Nasabah Pegadaian Disikat Orang Dekat
Kasus ‘Pengeroyokan’ Oknum Polisi di Takalar Mandek 3 Bulan, Ada Apa di Balik Diamnya Penyidik?
Sejumlah Titik Diduga Jadi Basis Solar Ilegal di Kolut, Polisi Didesak Transparan
Pasien Cuci Darah di Makassar Diduga Disuntik Obat Kadaluwarsa, Apotek Disomasi
Dikeluhkan Pengguna, Layanan Top Up e-Money di Tol Makassar Dinilai Tak Ramah
Urus SIM di Takalar Diduga Tak Sesuai Aturan, Biaya Membengkak

Berita Terkait

Rabu, 25 Maret 2026 - 21:06 WITA

Dugaan Pembiaran Menguat, Gowa Terancam Jadi Sarang Judi Terbuka

Selasa, 24 Maret 2026 - 15:03 WITA

Ngeri! Tanda Tangan Diduga Dipalsukan, Emas Nasabah Pegadaian Disikat Orang Dekat

Senin, 23 Maret 2026 - 20:00 WITA

Kasus ‘Pengeroyokan’ Oknum Polisi di Takalar Mandek 3 Bulan, Ada Apa di Balik Diamnya Penyidik?

Sabtu, 21 Maret 2026 - 14:02 WITA

Sejumlah Titik Diduga Jadi Basis Solar Ilegal di Kolut, Polisi Didesak Transparan

Jumat, 20 Maret 2026 - 15:41 WITA

Pasien Cuci Darah di Makassar Diduga Disuntik Obat Kadaluwarsa, Apotek Disomasi

Berita Terbaru

HMI Cabang Takalar Saat melakukan Aksi di Kejaksaan

Daerah

Pemda Bicara Tegas, Tapi Dapur Tak Tertib Tetap Jalan

Sabtu, 28 Mar 2026 - 11:25 WITA

Ilustrasi Rudal Buatan Iran

Internasional

Rudal Iran Mengarah ke Israel dan Basis AS, Dunia Waspada Eskalasi

Jumat, 27 Mar 2026 - 23:13 WITA