Penjara Jadi Tempat ‘Dagang’ Sabu, Kalapas Bungkam, Polisi Tak Bertaring!

Rabu, 22 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lapas Pare Pare

Lapas Pare Pare

Gedor.id– Satu bulan berlalu sejak kasus jual beli sabu di dalam Lapas Kelas IIA Parepare terbongkar pada Senin, 22 September 2025 lalu.

Namun hingga kini, asal muasal sabu yang berhasil diselundupkan ke balik jeruji besi itu masih gelap.

Upaya penegak hukum menelusuri jaringan peredaran sabu di dalam lapas tampak jalan di tempat.

Saat dikonfirmasi, Kapolres Parepare AKBP Indra Waspada Yuda memilih irit bicara dan hanya mengarahkan awak media untuk menghubungi Kasat Narkoba.

“Untuk teknis ke Kasat Narkoba,” singkat Indra melalui pesan WhatsApp, Rabu (22/10/2025).

Namun hingga berita ini diturunkan, Kasat Narkoba Polres Parepare Iptu Tarmizi belum juga memberikan tanggapan atas pertanyaan terkait perkembangan kasus tersebut.

Pesan konfirmasi yang dikirim ke nomor pribadinya sejak siang belum direspons.

Padahal, kasus ini terbilang serius. Empat warga binaan telah ditetapkan sebagai tersangka, bersama dua orang dari luar lapas yang ditangkap saat bertransaksi.

BACA JUGA :  Siapa 'R'? Bandar Togel Toraja Utara Diduga Dapat Perlindungan

Namun, sosok bandar besar atau pemasok sabu ke dalam lapas masih belum terungkap.

Terbongkar dari Aksi Dua Pembeli

Kasus ini bermula saat petugas Lapas Parepare mencurigai dua pria yang datang berpura-pura membesuk salah satu warga binaan.

Saat digeledah, petugas menemukan 18 sachet berisi kristal bening diduga sabu seberat 4,25 gram, disembunyikan di dalam bungkus rokok.

Kedua pria itu, berinisial AA dan R, langsung diamankan dan diserahkan ke Sat Narkoba Polres Parepare untuk penyelidikan.

“Dua pria itu diamankan karena usai membeli sabu dari dalam lapas. Keduanya sudah kami tahan,” ujar Iptu Tarmizi dalam pernyataan awal beberapa waktu lalu.

Dari hasil pengembangan, polisi menetapkan empat warga binaan berinisial A, AB, I, dan J sebagai bagian dari jaringan peredaran sabu di dalam Lapas Kelas IIA Parepare.

“Total ada enam tersangka, empat di dalam dan dua di luar lapas,” ungkap Tarmizi saat itu.

BACA JUGA :  Pengakuan Mengejutkan Terduga Pelaku Kasus Wanita Selayar, Tapi Status Hukum Masih Menggantung

Barang bukti yang disita antara lain 18 sachet sabu, sebuah handphone, bungkus rokok, dan kotak obat yang digunakan untuk menyembunyikan barang haram tersebut.

Para tersangka dijerat Pasal 114 dan 112 UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara.

Kalapas Mengaku Tak Tahu, Pengawasan Dipertanyakan

Ironisnya, Kepala Lapas Kelas IIA Parepare, Marten, mengaku tidak mengetahui secara pasti berapa warga binaannya yang diperiksa polisi. Ia bahkan mengaku baru tahu dari media.

“Saya tahunya dari pemberitaan, ya empat orang,” kata Marten, Kamis (25/9/2025).

Pernyataan itu semakin memperkuat dugaan lemahnya sistem pengawasan di dalam lapas.

Setelah kasus ini mencuat, pihak lapas baru melakukan razia di blok hunian dan menemukan sekitar 120 unit ponsel yang digunakan warga binaan. Semua barang terlarang itu dimusnahkan pada Kamis (2/10/2025).

BACA JUGA :  Satresnarkoba Bulukumba Ngamuk! 11 Kasus Terbongkar Sekaligus

Selain ponsel, petugas juga menyita sejumlah charger dan barang-barang lain yang seharusnya tak berada di tangan napi.

Marten menduga handphone-handphone itu diselundupkan oleh keluarga atau pembesuk warga binaan.

“Mereka selundupkan lewat makanan, bahkan kadang disembunyikan di badan. Kami memang sulit mendeteksi semuanya,” ujar Marten.

Namun temuan ratusan ponsel itu menimbulkan pertanyaan besar. Pasalnya, dari alat komunikasi itulah transaksi sabu antara napi dan pembeli diduga terjadi melalui aplikasi WhatsApp.

Kenyataan bahwa sabu bisa keluar-masuk lapas tanpa terdeteksi menunjukkan bahwa pengawasan di Lapas Parepare longgar dan rawan dimanfaatkan jaringan narkoba.

Padahal, prosedur standar mengharuskan pemeriksaan ketat terhadap setiap pembesuk maupun barang bawaan mereka.

Kini publik menanti keseriusan aparat kepolisian dan pihak lapas dalam menuntaskan kasus ini. Karena selama pintu pengawasan masih terbuka, bisnis haram di balik jeruji besi akan terus hidup.

(Ardi)

Berita Terkait

Takalar Heboh Soroti Rachita 2, Aktivis Desak Pemeriksaan Lapangan
Tak Mau Ada yang Ditutupi, Poros Rakyat Indonesia Minta Audit Menyeluruh Pemanfaatan Lahan Negara
Geger Dana Desa Tamalate, BPD Seret Dugaan Pelanggaran ke DPRD Takalar
Poros Rakyat Indonesia Bongkar Dugaan Jaringan Pelindung Tambang Emas di Biringbulu
Bisnis Solar Subsidi Diduga Berjalan Mulus di Parepare, Modus Barcode Ganda Terendus
Tambang Ilegal Menjamur di Gowa, Kinerja Kasat Reskrim dan Kasat Intel Polres Gowa Dipertanyakan
Bangunan Diduga Ilegal Jadi Sorotan, Penegakan Aturan di Kota Medan “Payah”
Gowa Darurat Tambang Ilegal, Pengawasan Polres Dipertanyakan

Berita Terkait

Sabtu, 20 Juni 2026 - 21:38 WITA

Takalar Heboh Soroti Rachita 2, Aktivis Desak Pemeriksaan Lapangan

Sabtu, 20 Juni 2026 - 13:30 WITA

Tak Mau Ada yang Ditutupi, Poros Rakyat Indonesia Minta Audit Menyeluruh Pemanfaatan Lahan Negara

Sabtu, 20 Juni 2026 - 12:27 WITA

Geger Dana Desa Tamalate, BPD Seret Dugaan Pelanggaran ke DPRD Takalar

Jumat, 19 Juni 2026 - 21:19 WITA

Poros Rakyat Indonesia Bongkar Dugaan Jaringan Pelindung Tambang Emas di Biringbulu

Rabu, 17 Juni 2026 - 03:31 WITA

Tambang Ilegal Menjamur di Gowa, Kinerja Kasat Reskrim dan Kasat Intel Polres Gowa Dipertanyakan

Berita Terbaru