Dua Laporan Dugaan Penipuan di Polres Sidrap Mandek Hampir Lima Tahun

Selasa, 13 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Polres Sidrap

Polres Sidrap

Gedor.id- Penanganan dua laporan masyarakat terkait dugaan penipuan dan penggelapan di Polres Sidrap menuai sorotan.

Dua laporan yang masuk masing-masing pada 2020 dan 2021 itu hingga akhir Desember 2025 belum menunjukkan kepastian hukum, meski tahapan awal penyelidikan disebut telah dilakukan.

Mandeknya penanganan perkara selama hampir lima tahun memunculkan pertanyaan publik, terlebih laporan tersebut disebut telah dilengkapi bukti transaksi, keterangan saksi, hingga pengakuan terlapor.

Pelapor berinisial NI melaporkan seorang jastiper asal Sidrap berinisial YM dalam dua perkara berbeda.

Perkara pertama tercatat melalui Surat Pemberitahuan Perkembangan Penelitian Hasil Laporan (SP2HP) Nomor B/06/I/RES.1.11./2021, terkait dugaan penipuan dan penggelapan pemesanan daster dengan nilai kerugian sekitar Rp 40 juta.

Sementara perkara kedua tercatat dengan Nomor B/608/X/RES.1.6./2020/Reskrim, ditangani Unit Tipiter Polres Sidrap, dan menyangkut dugaan penipuan 4.500 rak telur, dengan nilai kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.

NI menegaskan seluruh tahapan awal penegakan hukum telah dipenuhi. Sejumlah saksi telah diperiksa, bukti transaksi diserahkan, dan terlapor disebut mengakui perbuatannya serta berjanji mengganti kerugian. Namun hingga kini, janji tersebut tidak pernah direalisasikan.

BACA JUGA :  Laut Tanakeke Menghitam, Bom Ikan Beraksi, LSM Pemantik: Penegakan Hukum Mati Rasa!

“Saya sudah beberapa kali datang ke Polres Sidrap. Jawabannya selalu sama, nanti dipanggil kembali. Padahal semua bukti sudah saya serahkan,” ujar NI

Ia juga menyebut sempat ada upaya mediasi yang dilakukan oleh pengacara terlapor. Namun, kesepakatan tersebut hanya disampaikan secara lisan tanpa realisasi.

“Kesepakatannya hanya lisan, bahwa kerugian saya akan diganti. Tapi sampai sekarang tidak ada realisasi,” kata NI.

Pengacara korban dari ARY Law Office menilai perkara tersebut tidak tergolong rumit atau kompleks.

“Pelapor jelas, saksi jelas, bukti transaksi ada, terlapor sudah diperiksa dan mengakui. Namun sampai sekarang tidak ada kepastian hukum,” ujarnya. melalui rilis yang di terima media ini. Senin (12/1/2026)

Pihaknya mengapresiasi langkah Polres Sidrap yang disebut kembali membuka berkas laporan, namun menegaskan bahwa korban membutuhkan kepastian hukum, bukan sekadar janji penanganan ulang.

Kasatres Polres Sidrap, AKP Welfrick Krisyana Ambarita, saat dikonfirmasi menyampaikan bahwa perkembangan penanganan perkara akan disampaikan langsung kepada pelapor.

“Nanti perkembangan kasus akan kami kabari langsung kepada pelapornya,” ujarnya kepada matanusantara.co.id melalui sambungan WhatsApp, Senin (12/1/2026).

BACA JUGA :  Sikap Membandel Terlapor Disorot, Firmansyah dan Iwan Absen, Perkara Terancam Naik ke Penyidikan

Ia juga menyatakan pihak kepolisian tidak akan menyampaikan perkembangan perkara kepada media dengan alasan menjaga hubungan antara penyidik dan pelapor.

“Pemberitahuan perkembangan laporan itu kami sampaikan kepada pelapor. Jangan sampai saya menyampaikan informasi nanti malah tidak berkenan pelapornya,” kata AKP Welfrick.

Sikap tersebut memunculkan pertanyaan terkait penerapan prinsip keterbukaan informasi publik sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008, yang menjamin hak masyarakat dan media untuk memperoleh informasi, kecuali yang secara tegas dikecualikan.

Terkait mediasi yang tidak terealisasi, AKP Welfrick menyebut penyelesaian melalui mekanisme restorative justice dapat dilakukan apabila terdapat kesepakatan dan pemulihan yang nyata bagi korban.

“Kalau ada kesepakatan damai dan pemulihan kepada korban, itu bisa kami akomodir,” ujarnya.

Namun ia menambahkan, apabila kesepakatan tidak dijalankan, pelapor dapat menempuh jalur perdata.

“Jika kesepakatan tidak dipenuhi, itu bisa masuk ranah wanprestasi,” katanya.

Saat ditanya mengenai status perkara—apakah telah naik ke tahap penyidikan (sidik) atau masih penyelidikan (lidik)—AKP Welfrick menyatakan akan melakukan pengecekan terlebih dahulu.

BACA JUGA :  Diskominfo Gowa Diduga Tutupi Aliran Dana Rp1,1 Miliar ke Media

“Saya cek dulu, karena ini laporan lama, tahun 2020. Saya baru dua bulan di sini,” ujarnya.

Sementara itu, Kanitres Polres Sidrap Ipda Eka Sastri yang juga dikonfirmasi hanya menyampaikan tanggapan singkat.

“Saya coba cari dulu berkasnya, Pak,” ujarnya.

Mandeknya dua laporan dengan nilai kerugian berbeda selama bertahun-tahun memunculkan dugaan adanya persoalan struktural dalam penanganan pengaduan masyarakat.

Kondisi ini berpotensi masuk kategori maladministrasi berupa penundaan berlarut, yang berdampak pada hilangnya kepastian hukum bagi korban.

Minimnya transparansi juga dinilai berpotensi menggerus kepercayaan publik terhadap aparat penegak hukum, sekaligus menghambat peran pers dalam melakukan fungsi pengawasan.

Kasus ini menjadi ujian bagi Polres Sidrap dan institusi Polri dalam menjamin kepastian hukum, keadilan bagi korban, akuntabilitas penanganan laporan masyarakat, serta pemenuhan prinsip keterbukaan informasi publik.

Publik menantikan langkah konkret berupa kejelasan status perkara, penanganan yang transparan, serta evaluasi internal yang dapat dipertanggungjawabkan.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada penjelasan resmi mengenai alasan stagnasi penanganan kedua laporan tersebut.

(Tim)

Berita Terkait

Sejumlah Titik Diduga Jadi Basis Solar Ilegal di Kolut, Polisi Didesak Transparan
Pasien Cuci Darah di Makassar Diduga Disuntik Obat Kadaluwarsa, Apotek Disomasi
Dikeluhkan Pengguna, Layanan Top Up e-Money di Tol Makassar Dinilai Tak Ramah
Urus SIM di Takalar Diduga Tak Sesuai Aturan, Biaya Membengkak
Dugaan Korupsi Proyek Irigasi Rp12,4 M di Takalar Mencuat, Saluran Dibangun Tanpa Pintu Air
Dugaan Setoran Rp25–35 Juta Warnai Program Irigasi P3TGAI di Takalar
Nekat! Ritel Modern di Bungadidi Tetap Dibangun Meski Izin Dicabut
Dugaan Penyelewengan Solar Subsidi Menguat, HMI Ancam Demo Besar di Polda Sulsel

Berita Terkait

Sabtu, 21 Maret 2026 - 14:02 WITA

Sejumlah Titik Diduga Jadi Basis Solar Ilegal di Kolut, Polisi Didesak Transparan

Jumat, 20 Maret 2026 - 15:41 WITA

Pasien Cuci Darah di Makassar Diduga Disuntik Obat Kadaluwarsa, Apotek Disomasi

Selasa, 17 Maret 2026 - 14:07 WITA

Urus SIM di Takalar Diduga Tak Sesuai Aturan, Biaya Membengkak

Senin, 16 Maret 2026 - 21:04 WITA

Dugaan Korupsi Proyek Irigasi Rp12,4 M di Takalar Mencuat, Saluran Dibangun Tanpa Pintu Air

Minggu, 15 Maret 2026 - 21:23 WITA

Dugaan Setoran Rp25–35 Juta Warnai Program Irigasi P3TGAI di Takalar

Berita Terbaru