SD Inpres Kelapa Tiga 1 Makassar Mantapkan Langkah Menuju Sekolah Adiwiyata Nasional

Senin, 6 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dr. Sri Gusty, dosen PNUP Makassar, memberikan penguatan inovasi SAKTI dan program Sekolah Adiwiyata di SD Inpres Kelapa Tiga 1 Makassar.

Dr. Sri Gusty, dosen PNUP Makassar, memberikan penguatan inovasi SAKTI dan program Sekolah Adiwiyata di SD Inpres Kelapa Tiga 1 Makassar.

Gedor.id – “Sekolah adiwiyata itu bukan cuma soal tampilan fisik yang terlihat bersih dan indah. Namun terkait sikap dan perilaku, sebagai karakter berwawasan lingkungan hidup yang berkelanjutan,” imbuh Dr Sri Gusty, ST, MT, Minggu, 5 Oktober 2025.

Dosen Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) itu berbicara dalam kegiatan Kelas Inspirasi dan pengabdian pada masyarakat di UPT SPF SD Inpres Kelapa Tiga 1, Jalan Bakti IV Nomor 51.

Dr Sri Gusty tampil santai di hadapan murid-murid, orangtua, dan guru untuk penguatan Program Inovasi SAKTI dan Sekolah Adiwiyata.

SD yang berada di Kecamatan Rappocini, Kota Makassar itu, sejak Juli 2025  mengembangkan program inovasi SAKTI, akronim dari kebiasaan anak berkarakter Indonesia. Sekolah ini juga tengah menuju Sekolah Adiwiyata Nasional.

Sekolah Adiwiyata yang dikembangkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dilakukan untuk mendorong kesadaran, kepedulian, dan partisipasi warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup melalui pengembangan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan.

Tujuan program ini, kata Dr Sri Gusty, untuk membentuk sekolah yang sehat, bersih dan indah sebagai tempat pembelajaran yang membentuk sikap dan perilaku segenap warga sekolah yang bertanggung jawab.

Perilaku bertanggung jawab di sini, dimaksud baik itu terhadap lingkungan, rumah, serta masyarakat untuk membangun masa depan yang berkelanjutan.

Perilaku ini sejalan dengan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yakni bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat.

Menurutnya, tujuh kebiasaan yang akan membentuk karakter anak itu, sangat dipengaruhi oleh contoh teladan dari orangtuanya.

Dr Sri Gusty lantas memperlihatkan foto berupa gunungan sampah di TPAS Antang pada salah satu slide power pointnya. Dia lalu melontarkan pertanyaan, “Apakah kita bangga punya gunung sampah?” Anak-anak spontan menjawab, “Tidak!”

Dia lanjut menjelaskan bahwa kita punya gunung sampah arena tata kelola pengelolaan sampah kita tidak optimal.

Katanya, itu karena kita tidak konsisten menerapkan konsep 3R, singkatan dari Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan ulang), dan Recycle (mendaur ulang). Konsep 3R ini merupakan prinsip dasar dalam pengelolaan sampah untuk meminimalkan limbah sekaligus menghemat sumber daya alam.

Kegiatan ini bertambah seru karena ada games dengan hadiah cokelat yang disediakan oleh Bu Sri Gusty. Anak-anak pun antusias untuk bertanya karena hadiahnya menarik.

Selain anak-anak yang hadir dengan kaos SAKTI, juga ada ibu-ibu komunitas Male’bi. Ketua Komunitas Male’bi, Eka Sari, S.Kom, juga merupakan Sekretaris Komite Sekolah.

Male’bi merupakan akronim dari majukan literasi budaya dan lingkungan. Komunitas ini merupakan kelompok ibu-ibu yang peduli pada pengembangan karakter anak berbasis budaya dan lingkungan hidup.

Hadir pula pegiat Sekolah Ramah Anak, Risdin Tompo, yang selama ini menjadi bagian dari stakeholder sekolah.

Kepala UPT SPF SD Inpres Kelapa Tiga 1, Hj Nahidha Mallapiang, S.Pd, M.Pd, optimis bahwa sekolahnya yang tengah menuju Adiwiyata Nasional akan terealisasi. Itu bila sinergitas dan kolaborasi dari para pemangku kepentingan ikut memperkuat program-program yang dikembangkan sekolah, termasuk inovasi SAKTI.

Kolaborasi itu dilakukan dengan kampus atau perguruan tinggi, dengan aktivis dan pegiat literasi, juga dengan ibu-ibu Komunitas Male’bi. Harapannya, akan menciptakan lingkungan sekolah yang bersih dan nyaman sehingga anak-anak belajar dengan baik.

“Kita ingatkan anak-anak untuk lakukan pembiasaan di sekolah dan di rumah. Mulai dengan memilah sampah dan mengelolanya. Pembiasaan ini yang diharapkan akan memberikan perubahan para perilaku anak dalam jangkan panjang,” papar Nahidha Mallapiang.

(RT/ID)

Berita Terkait

Tak Lagi Diam! Cipayung Plus Serukan Evaluasi Total Pengelola Ekonomi Negara
SPMB “Beleng-Beleng” di SMAN 1 Parepare, Data Malaysia dan Gunung Es Masuk Jalur Zonasi
AMSS Geram, Kasus 387 Diduga Hanya Menjerat Pelaksana Lapangan, Pengendali Belum Terbongkar
Rumput Laut Takalar Jadi Rebutan, Investor Australia Siap Tanam Modal di Sektor Hilirisasi
Krisis Air Bersih Makin Menggila, Kursi Wali Kota Makassar Mulai Diguncang
Harga Diri Dipermalukan, Anna Tempuh Jalur Hukum Usai Dicap Penipu
Tiga Sapi Rebah di MaxOne Makassar, Daging Kurban Mengalir ke Ratusan Rumah
Polisi Nilai Unsur Pembunuhan Berencana Belum Terpenuhi, Aktivis Mahasiswa Bereaksi

Berita Terkait

Sabtu, 20 Juni 2026 - 14:31 WITA

Tak Lagi Diam! Cipayung Plus Serukan Evaluasi Total Pengelola Ekonomi Negara

Jumat, 12 Juni 2026 - 18:29 WITA

SPMB “Beleng-Beleng” di SMAN 1 Parepare, Data Malaysia dan Gunung Es Masuk Jalur Zonasi

Senin, 8 Juni 2026 - 18:31 WITA

AMSS Geram, Kasus 387 Diduga Hanya Menjerat Pelaksana Lapangan, Pengendali Belum Terbongkar

Kamis, 4 Juni 2026 - 16:10 WITA

Rumput Laut Takalar Jadi Rebutan, Investor Australia Siap Tanam Modal di Sektor Hilirisasi

Senin, 1 Juni 2026 - 14:46 WITA

Krisis Air Bersih Makin Menggila, Kursi Wali Kota Makassar Mulai Diguncang

Berita Terbaru