Operasi ICE Kembali Makan Korban, Perawat Warga AS Tewas Ditembak

Tojeng

Minggu, 25 Januari 2026 - 22:15 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Alex Pretti yang berprofesi perawat, tampak tergeletak di jalan, setelah jadi korban penembakan petugas imigrasi Amerika Serikat (ICE) di Minneapolis

Alex Pretti yang berprofesi perawat, tampak tergeletak di jalan, setelah jadi korban penembakan petugas imigrasi Amerika Serikat (ICE) di Minneapolis

Gedor.id– Tragedi penembakan mematikan oleh agen Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE) kembali terjadi.

Kali ini, korban adalah warga negara Amerika Serikat bernama Alex Pretti (37), seorang perawat, yang tewas ditembak agen imigrasi federal pada Sabtu (24/1/2026) waktu setempat di Minneapolis, Minnesota.

Insiden ini langsung memicu gelombang protes dan desakan penghentian operasi ICE di Minneapolis.

Penembakan tersebut menambah daftar panjang kasus kekerasan mematikan yang melibatkan agen imigrasi di kota itu.

Beberapa pekan sebelumnya, di lokasi yang sama, seorang perempuan bernama Renee Nicole Good juga tewas ditembak petugas imigrasi AS.

Saat itu, Renee Good ditembak tiga kali dari jarak dekat ketika berada di dalam mobil yang dikemudikannya.

BACA JUGA :  Dugaan Cekik Orator di Atas Mobil Komando, Kapolres Bombana Tuai Sorotan Tajam

Dalam kedua kasus tersebut, pemerintah Amerika Serikat menyampaikan narasi serupa: menyalahkan korban dengan alasan diduga hendak melukai agen federal.

Pada kasus Renee Good, Presiden AS Donald Trump bahkan secara terbuka membela tindakan agen ICE dan menyebutnya sebagai bentuk pembelaan diri.

Pengiriman ribuan agen ICE ke berbagai kota besar di AS merupakan kebijakan langsung Presiden Trump, dengan dalih menindak imigran yang diduga tidak memiliki dokumen resmi.

Namun, operasi tersebut justru menuai kecaman luas karena dinilai represif dan membahayakan warga sipil.

Penolakan datang tidak hanya dari masyarakat, tetapi juga dari sejumlah wali kota dan gubernur di berbagai negara bagian.

Terkait kematian Alex Pretti, Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) AS mengklaim korban membawa pistol dan amunisi saat operasi berlangsung.

BACA JUGA :  Demo Tuntut Kasus Pencurian, Mahasiswa HIPERMATA Malah Dipaksa dan Diseret Aparat

Klaim itu disampaikan langsung oleh Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem dalam konferensi pers, seperti dilaporkan AFP.

Sementara itu, Wakil Kepala Staf Gedung Putih Stephen Miller memicu kontroversi dengan menyebut Alex Pretti sebagai “pembunuh bayaran” melalui unggahan di media sosial X.

Rekaman video yang beredar luas memperlihatkan Alex Pretti tengah merekam aktivitas agen ICE yang mengatur lalu lintas di jalan bersalju.

Saat itu, sedang berlangsung aksi unjuk rasa warga Minneapolis yang menolak kehadiran agen imigrasi federal.

Ketegangan meningkat ketika seorang agen ICE terlihat mendorong seorang perempuan demonstran hingga terjatuh di trotoar. Alex Pretti kemudian mendekati lokasi kejadian.

BACA JUGA :  Dugaan Penyiksaan di Polsek Mangarabombang, Empat Oknum Polisi Dilaporkan

Namun, ia langsung disemprot zat iritan kimia ke wajahnya. Beberapa agen ICE lalu menarik dan berusaha menahannya di permukaan jalan yang licin akibat salju.

Dalam rekaman tersebut, tampak salah seorang agen menarik sebuah pistol dari celana Alex Pretti.

Tak lama kemudian, sejumlah tembakan dilepaskan ke arah Pretti, meski ia terlihat sudah tidak berdaya.

Gubernur Minnesota Tim Walz mengecam keras penembakan yang menewaskan warga sipil tersebut.

“Penembakan ini sangat mengerikan,” ujar Tim Walz dalam konferensi pers.

Ia menegaskan bahwa pemerintah negara bagian Minnesota akan mengambil alih penyelidikan, bukan diserahkan kepada otoritas federal.

“Pemerintah federal tidak dapat dipercaya untuk memimpin penyelidikan ini. Negara bagian akan menanganinya,” tegasnya. (***)

Editor : Darwis

Berita Terkait

Presiden Iran Masuk Kandang Trump, Kirim Pesan Keras soal Tekanan AS
Serangan Besar Ukraina ke Moskow, Kilang Minyak Utama Rusia Terbakar
Trump Tebar Janji US$5.000 untuk Warga AS di Tengah Persaingan Pemilu
AS Bombardir Larak, Iran Balas Hantam Pangkalan Militer di Yordania
Nepal-Tibet Diterjang Banjir Bandang, 472 Orang Meregang Nyawa
Danau Glasial Diduga Jebol, Banjir Maut Hantam Perbatasan Nepal-China
Krisis Hormuz Memanas, Iran Tak Akan Buka Selat Sebelum AS Menyerah
Trump Ancam Spanyol, Perdagangan dengan AS Dihentikan

Berita Terkait

Jumat, 25 September 2026 - 00:38 WITA

Presiden Iran Masuk Kandang Trump, Kirim Pesan Keras soal Tekanan AS

Senin, 21 September 2026 - 13:25 WITA

Serangan Besar Ukraina ke Moskow, Kilang Minyak Utama Rusia Terbakar

Kamis, 10 September 2026 - 13:58 WITA

Trump Tebar Janji US$5.000 untuk Warga AS di Tengah Persaingan Pemilu

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:01 WITA

AS Bombardir Larak, Iran Balas Hantam Pangkalan Militer di Yordania

Jumat, 28 Agustus 2026 - 21:44 WITA

Nepal-Tibet Diterjang Banjir Bandang, 472 Orang Meregang Nyawa

Berita Terbaru

Rais saat di tangkap di takalar

Hukum dan Kriminal

Terungkap! Pria 23 Tahun Diduga Aniaya Lansia di Gowa, Ditangkap di Takalar

Senin, 28 Sep 2026 - 20:45 WITA