Pangkalan Gas Takalar Mengaku Dibiarkan Mati, Pemilik Ungkap Dugaan Tekanan untuk Menjual

Tojeng

Senin, 12 Oktober 2026 - 07:34 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pangkalan LPG 3 Kilogram

Pangkalan LPG 3 Kilogram

Gedor.id– Pasokan gas elpiji ke Pangkalan Arrahman di Jalan Terong, Lingkungan Panaikang, Kelurahan Pattallassang, Kabupaten Takalar, disebut terhenti selama hampir empat bulan.

Pemilik pangkalan, Syamsuddin Nyampo, mengaku tidak mendapat kepastian mengenai kelanjutan kerja sama dengan pihak agen, meski tunggakan pembayaran yang menjadi persoalan awal telah dilunasi.

Syamsuddin mengatakan, pasokan mulai terhenti setelah dirinya terlambat melakukan pembayaran sekitar satu pekan hingga menerima surat peringatan (SP) dari pihak agen.

Namun, setelah kewajibannya diselesaikan, pengiriman gas ke pangkalannya tidak kembali berjalan.

“Sudah empat bulan tidak pernah diantarkan gas dan tidak pernah ada pemberitahuan pasti apakah mau diputuskan atau bagaimana,” ungkap Syamsuddin, Minggu (11/10/2026).

Terhentinya pasokan tersebut membuat keberlangsungan usaha yang telah dijalankannya selama dua tahun itu terancam.

Ia mempertanyakan alasan penghentian distribusi serta status hubungan usahanya dengan agen.

Klaim Setoran Awal Rp23 Juta

Selain persoalan pasokan, Syamsuddin mengungkapkan bahwa dirinya mengeluarkan dana sebesar Rp23 juta saat pertama kali membuka pangkalan.

Menurut dia, dana tersebut diperuntukkan bagi biaya administrasi, pengurusan izin pangkalan, serta pengadaan 50 tabung elpiji 3 kilogram dan tiga tabung gas berwarna merah muda berkapasitas 5,5 kilogram.

Syamsuddin mengaku memiliki kuitansi sebagai bukti pembayaran.

Namun, ia menilai persoalan penghentian pasokan yang berlangsung berbulan-bulan membuatnya membutuhkan kejelasan mengenai status usaha dan dana yang telah dikeluarkan tersebut.

Di sisi lain, pemilik agen PT Dwi Maju Energi, Dwi Pratiwi, membantah mengetahui maupun menerima setoran Rp23 juta yang dimaksud Syamsuddin.

“Saya sama sekali tidak tahu itu dana Rp23 juta disetor ke mana, karena saya sama sekali tidak terima dana itu,” kata Dwi Pratiwi saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.

Perbedaan keterangan ini menyisakan pertanyaan mengenai pihak penerima dana, tujuan pembayaran, serta dokumen yang mendasari transaksi tersebut.

Mengaku Diminta Menjual Pangkalan

Syamsuddin juga mengaku mendapat permintaan untuk melakukan take over atau mengalihkan kepemilikan pangkalannya kepada pihak lain.

Ia menyebut permintaan tersebut disampaikan oleh Ibrahim, yang menurut Syamsuddin merupakan admin agen.

Ketika menolak, ia mengaku mendapat pernyataan bahwa pangkalannya akan berhenti beroperasi dengan sendirinya apabila tidak dijual.

“Saya diancam, kalau saya tidak mau menjual pangkalan saya, maka pangkalan ini katanya akan mati dengan sendirinya,” tuturnya.

Pernyataan tersebut masih merupakan keterangan Syamsuddin. Belum terdapat keterangan langsung dari Ibrahim mengenai dugaan permintaan pengalihan pangkalan maupun pernyataan yang dianggap sebagai ancaman tersebut.

Agen Sebut Ada Dua Surat Peringatan

Dwi Pratiwi menyampaikan versi berbeda mengenai penghentian pasokan.

Ia menyebut Syamsuddin telah dua kali menerima surat peringatan karena dinilai kerap terlambat melakukan pembayaran.

Dwi juga mengaku pernah membantu melunasi tunggakan pembayaran pangkalan tersebut.

Namun, dalam keterangannya, ia tidak membenarkan bahwa persoalan pasokan berkaitan dengan permintaan penjualan pangkalan sebagaimana disampaikan Syamsuddin.

Terkait jumlah distribusi, Dwi membantah informasi mengenai jatah 200 tabung per bulan.

Menurut dia, alokasi yang diterima pangkalan tersebut hanya 50 tabung per bulan.

Dwi juga mempertanyakan keterlibatan media dalam persoalan itu dan meminta agar alasan penghentian pasokan ditanyakan langsung kepada pemilik pangkalan.

Perlu Kejelasan atas Penghentian Pasokan

Perbedaan keterangan antara Syamsuddin dan Dwi Pratiwi menunjukkan bahwa persoalan ini belum sepenuhnya terang.

Pemilik pangkalan mempersoalkan penghentian pasokan, dana awal yang disebut telah disetorkan, serta dugaan permintaan untuk menjual usaha.

Sementara itu, pihak agen menekankan persoalan keterlambatan pembayaran dan membantah menerima dana Rp23 juta.

Untuk memperjelas duduk perkara, sejumlah hal masih perlu ditelusuri, termasuk bukti pembayaran dan identitas penerima dana Rp23 juta, surat peringatan yang diterbitkan, dasar penghentian distribusi, serta status kerja sama antara pangkalan dan agen.

Kepastian tersebut penting agar persoalan tidak berhenti pada saling bantah.

Jika terdapat perselisihan mengenai hak dan kewajiban dalam kerja sama distribusi, penyelesaiannya perlu didasarkan pada dokumen, ketentuan yang berlaku, dan keterangan seluruh pihak terkait.

(Tim)

Berita Terkait

Peserta Bebas Pulang, Grand Imawan Tetap Disorot, Uang Penginapan dari Mana?
Jangan-Jangan Sidak Hanya Formalitas, Aktivitas Kalabbirang Tetap Menggeliat
Pelatihan PTK Smart School Disorot, Biaya Penginapan Peserta Capai Ratusan Juta?
Satu per Satu Oknum LSM Datang ke Tambang Gowa, Penambang Diduga Jadi Sasaran
Bangun Pasar, Buang Anggaran? Rp1,1 Miliar Berujung Bangunan Mangkrak
Dugaan Penggunaan Material Ilegal di Proyek Jalan Lutra, Kinerja PPK dan DPRD Dipertanyakan
Tambang Panaikang Tak Kunjung Berhenti, Publik Mulai Bertanya: Siapa yang Membentengi?
Material Timbunan Dipersoalkan, PT Tri Star Mandiri Diminta Patuh Spesifikasi Kontrak

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 07:34 WITA

Pangkalan Gas Takalar Mengaku Dibiarkan Mati, Pemilik Ungkap Dugaan Tekanan untuk Menjual

Kamis, 8 Oktober 2026 - 22:23 WITA

Peserta Bebas Pulang, Grand Imawan Tetap Disorot, Uang Penginapan dari Mana?

Kamis, 8 Oktober 2026 - 08:31 WITA

Pelatihan PTK Smart School Disorot, Biaya Penginapan Peserta Capai Ratusan Juta?

Rabu, 7 Oktober 2026 - 14:25 WITA

Satu per Satu Oknum LSM Datang ke Tambang Gowa, Penambang Diduga Jadi Sasaran

Senin, 5 Oktober 2026 - 15:18 WITA

Bangun Pasar, Buang Anggaran? Rp1,1 Miliar Berujung Bangunan Mangkrak

Berita Terbaru

serangan di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, Arab Saudi

Internasional

Houthi Klaim Serangan di Riyadh, Trump Siapkan Keputusan Cepat

Minggu, 11 Okt 2026 - 15:58 WITA

Foto: REUTERS/Social Media

Internasional

Konflik Saudi-Houthi Memanas, Bandara Riyadh Jadi Sasaran Serangan

Sabtu, 10 Okt 2026 - 14:06 WITA