Pasal Berat Hilang, Jaksa Gowa Diduga Main Mata dalam Kasus Penganiayaan

Senin, 29 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kantor Kejaksaan Negeri Sungguminasa

Kantor Kejaksaan Negeri Sungguminasa

Gedor.id- Dewan Pimpinan Nasional Federasi Advokat Muda Indonesia (FAMI) melalui advokat senior, Sulkipani Thamrin, menyatakan sikap tegas mendampingi Nuradi, korban penganiayaan di Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa.

Kasus ini menyedot perhatian publik setelah Jaksa Penuntut Umum (JPU) hanya menuntut terdakwa dengan hukuman 6 bulan penjara atau pidana percobaan, meski korban menderita luka serius berupa pipi bengkak dan siku berdarah.

Dalam perkara nomor 184/Pid.B/2025/PN Sungguminasa, dua terdakwa, yakni Loba Dg. Rani dan anaknya Muh. Syahrul Dg. Buang bin Loba, awalnya dijerat dengan pasal berlapis: Pasal 170 ayat (2) KUHP, Pasal 351 ayat (1) KUHP, dan jo Pasal 55 ayat (1) KUHP. Namun saat tuntutan dibacakan, JPU hanya menggunakan Pasal 351 ayat (1) jo Pasal 55 ayat (1). Pasal yang lebih berat justru menghilang.

BACA JUGA :  Dugaan Tak Beres, Polisi Disebut Bela Terlapor dan Tekan Budiman S untuk Berdamai

Keputusan itu memicu tanda tanya besar. Sulkipani menilai, sikap JPU sangat merugikan korban sekaligus mencederai rasa keadilan.

“Kami menduga ada ketidakseriusan JPU dalam menuntut perkara ini. Pasal yang sejak awal jelas disangkakan tiba-tiba hilang, padahal korban mengalami luka nyata dan serius. Ini bukan sekadar luka ringan. Jika seperti ini, masyarakat kecil makin tidak percaya hukum,” tegas Sulkipani di Gowa, Senin (29/9/2025).

Atas dugaan penyimpangan itu, FAMI melalui Sulkipani resmi melaporkan JPU ke Jaksa Pengawasan Kejaksaan Agung RI dan juga ke Komisi Kejaksaan RI.

“Kami tidak hanya mendampingi korban, tapi juga memastikan aparat penegak hukum tidak menyalahgunakan kewenangan. Laporan ini adalah bentuk koreksi agar institusi kejaksaan tetap bersih dan dipercaya rakyat,” ujarnya.

Sulkipani menegaskan, FAMI hadir bukan hanya memberi bantuan hukum, melainkan memperjuangkan suara rakyat kecil yang sering tak terdengar.

“FAMI tidak akan pernah membiarkan rakyat kecil menjadi korban ketidakadilan. Kami akan kawal kasus ini sampai ke tingkat tertinggi, bahkan hingga Presiden sekalipun mendengar jeritan korban,” tandasnya.

Ia menambahkan, hukum tidak boleh tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Semua warga negara, baik rakyat biasa maupun pejabat, wajib mendapat perlakuan hukum yang sama.

BACA JUGA :  Meteran Listrik PK5 Dicabut, Pedagang Gowa Pertanyakan Hak

Selain melaporkan JPU ke pusat, Sulkipani juga mendesak Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan segera mengevaluasi internal penanganan kasus tersebut.

“Jika benar ada pasal yang dihilangkan, ini adalah preseden buruk bagi dunia peradilan. Kami juga akan bersurat ke Mahkamah Agung agar pengawasan terhadap hakim dan jaksa diperketat,” tegasnya lagi.

Keluarga korban menyambut baik dukungan hukum dari FAMI. Mereka berharap perjuangan ini membuat suara mereka lebih didengar.

“Kami tidak punya apa-apa. Kami hanya ingin keadilan. Dengan adanya bantuan FAMI, kami merasa tidak sendirian lagi,” tutur Syukur Jafar, paman korban.

Kasus ini menjadi sorotan bukan hanya karena luka fisik yang dialami korban, tetapi juga dugaan adanya pasal yang “menghilang” dalam proses penuntutan. Sulkipani memastikan FAMI akan terus mengawal perkara ini sebagai tanggung jawab moral dan profesional seorang advokat.

“Hukum adalah pelindung bagi semua, bukan alat untuk melemahkan rakyat kecil. Jika hukum tidak ditegakkan dengan adil, maka negara ini sedang dalam bahaya,” pungkasnya.

Bersambung…

BACA JUGA :  Tambang 'Ilegal' Renggut Hutan Desa, Penegak Hukum Cuma Jadi Penonton

(DS)
Follow Berita Gedor.id di Tiktok

Berita Terkait

Diduga Lindungi Bandar, Kapolres Bima Kota Terseret Pusaran Kasus Narkoba
Aksi Kriminal di Lampung, Konten Kreator Jadi Korban Dua Pemuda
Kasus Pengancaman di Biringbulu Belum Ada Kejelasan
Saat Ternak Raib, Penegakan Hukum di Takalar Ikut Menghilang
Sikap Membandel Terlapor Disorot, Firmansyah dan Iwan Absen, Perkara Terancam Naik ke Penyidikan
Korban Sebut Ada Dalang di Balik Pembacokan Brutal di Polsek Polut
Dugaan Penyiksaan di Polsek Mangarabombang, Empat Oknum Polisi Dilaporkan
Sudah Buat Surat Pengakuan, Oknum Moladin Justru Menghilang

Berita Terkait

Jumat, 13 Februari 2026 - 15:02 WITA

Diduga Lindungi Bandar, Kapolres Bima Kota Terseret Pusaran Kasus Narkoba

Kamis, 5 Februari 2026 - 16:58 WITA

Kasus Pengancaman di Biringbulu Belum Ada Kejelasan

Kamis, 5 Februari 2026 - 16:09 WITA

Saat Ternak Raib, Penegakan Hukum di Takalar Ikut Menghilang

Rabu, 4 Februari 2026 - 13:29 WITA

Sikap Membandel Terlapor Disorot, Firmansyah dan Iwan Absen, Perkara Terancam Naik ke Penyidikan

Minggu, 1 Februari 2026 - 22:01 WITA

Korban Sebut Ada Dalang di Balik Pembacokan Brutal di Polsek Polut

Berita Terbaru

Salinan Ijazah Jokowi (Foto Antara)

Nasional

Tanpa Sensor, Salinan Ijazah Jokowi Jadi Objek Uji Keaslian

Kamis, 12 Feb 2026 - 18:03 WITA