Prabowo–Trump Capai Kesepakatan, Transfer Data Lintas Negara Resmi Diizinkan

Sabtu, 21 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Prabowo Subianto dan Donald Trump (Ist)

Prabowo Subianto dan Donald Trump (Ist)

Gedor.id- Kesepakatan dagang antara pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi memasukkan klausul aliran data pribadi lintas negara sebagai bagian dari kerja sama ekonomi digital kedua negara.

Pemerintah menegaskan kebijakan tersebut tetap berada dalam koridor hukum nasional dan tidak mengabaikan perlindungan data warga negara Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, ketentuan transfer data lintas batas itu tercantum dalam Agreement on Reciprocal Tariff (ART), khususnya pada bagian kerja sama perdagangan digital dan teknologi.

Menurut Airlangga, Indonesia hanya membuka ruang pengiriman data untuk kepentingan bisnis secara terbatas dan tetap mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Mekanisme tersebut juga mensyaratkan kepatuhan terhadap regulasi perlindungan konsumen dan data pribadi.

Ia menyebut pemerintah Amerika Serikat akan menerapkan standar perlindungan yang diakui setara dengan ketentuan di Indonesia.

BACA JUGA :  Presiden Prabowo Instruksikan TNI-Polri Tindak Tegas Aksi Anarkis

Dalam dokumen yang dipublikasikan Washington, klausul tersebut masuk dalam Pakta 3 tentang Perdagangan Digital dan Teknologi.

Di dalamnya, Indonesia sepakat mendorong peningkatan aktivitas perdagangan digital, termasuk memberikan perlakuan non-diskriminatif terhadap produk dan layanan digital asal AS yang beredar di pasar domestik.

Selain isu transfer data, kedua negara juga menyepakati kolaborasi menghadapi ancaman serangan siber.

Namun, terdapat ketentuan bahwa AS meminta adanya komunikasi terlebih dahulu apabila Indonesia hendak menjalin kesepakatan perdagangan digital serupa dengan negara lain, dengan alasan menjaga kepentingan strategisnya.

Klausul transfer data ini sebelumnya menuai perdebatan publik karena dikhawatirkan berpotensi berbenturan dengan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP) dan prinsip kedaulatan digital.

Pihak Istana menyebutnya sebagai strategi pengelolaan perdagangan di era ekonomi digital.

BACA JUGA :  Megawati Umumkan Susunan Pengurus Baru, Posisi Sekjen Sempat Kosong

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menilai kesepakatan tersebut merupakan praktik global yang lazim diterapkan dalam kerja sama ekonomi digital lintas negara.

Ia menegaskan, pengiriman data tetap berbasis persetujuan individu serta dilengkapi protokol tata kelola yang terukur dan sah secara hukum.

Menurut Meutya, pengaturan ini justru memperkuat posisi Indonesia dalam memastikan hak digital warga terlindungi saat menggunakan layanan global seperti mesin pencari, media sosial, komputasi awan, hingga platform perdagangan elektronik.

Prinsip yang dikedepankan, kata dia, tetap pada tata kelola yang baik, perlindungan hak individu, dan supremasi hukum nasional.

Di sisi lain, Chairman CISSReC Pratama Persadha mengingatkan adanya potensi risiko terhadap kedaulatan data apabila pengawasan tidak dilakukan secara ketat dan transparan. Ia menilai, pengiriman data ke luar negeri bisa mengurangi kontrol negara atas informasi strategis yang berkaitan dengan keamanan nasional dan pembangunan ekonomi digital jangka panjang.

BACA JUGA :  Peringatan Keras Prabowo, Jabatan Bukan Tempat Cari Untung, Siap-Siap Reshuffle!

Pratama juga menyoroti bahwa sistem perlindungan data di Amerika Serikat belum sepenuhnya setara dengan standar General Data Protection Regulation (GDPR) Uni Eropa.

Meski demikian, ia mengakui UU PDP Indonesia membuka ruang transfer data ke luar negeri sepanjang negara tujuan memiliki tingkat perlindungan yang memadai atau lebih tinggi.

Karena itu, ia menekankan pentingnya kehadiran lembaga pengawas perlindungan data pribadi yang independen dan kuat.

Lembaga tersebut dinilai akan berperan krusial dalam mengevaluasi serta menetapkan standar keamanan setiap transfer data lintas negara, sehingga kepentingan nasional tetap terjaga di tengah arus perdagangan digital global.

Editor : Darwis

Berita Terkait

Teguran MSCI ke Otoritas Pasar Modal Bikin Istana Panas, Mintarsih Beri Penjelasan
Kondisi Fisik Jokowi Dinilai Terus Merosot di Tengah Isu Ijazah
Tanpa Sensor, Salinan Ijazah Jokowi Jadi Objek Uji Keaslian
Polemik Anggaran 1.500 Kapal Ikan, Menteri KKP dan Menteri Keuangan Saling Beda Pernyataan
KPK Telusuri Dugaan Aset Tersembunyi Ridwan Kamil dalam Kasus Korupsi Iklan Bank bjb
Penanganan Kasus Jambret Disorot, Kapolres Sleman Dinonaktifkan Sementara
DPR Ungkap Dugaan Kejahatan di Balik Banjir Aceh, Kejaksaan Diminta Tak Berhenti di Permukaan
Peringatan Keras Prabowo, Jabatan Bukan Tempat Cari Untung, Siap-Siap Reshuffle!

Berita Terkait

Sabtu, 21 Februari 2026 - 22:51 WITA

Prabowo–Trump Capai Kesepakatan, Transfer Data Lintas Negara Resmi Diizinkan

Selasa, 17 Februari 2026 - 20:11 WITA

Teguran MSCI ke Otoritas Pasar Modal Bikin Istana Panas, Mintarsih Beri Penjelasan

Kamis, 12 Februari 2026 - 18:18 WITA

Kondisi Fisik Jokowi Dinilai Terus Merosot di Tengah Isu Ijazah

Kamis, 12 Februari 2026 - 18:03 WITA

Tanpa Sensor, Salinan Ijazah Jokowi Jadi Objek Uji Keaslian

Rabu, 11 Februari 2026 - 15:10 WITA

Polemik Anggaran 1.500 Kapal Ikan, Menteri KKP dan Menteri Keuangan Saling Beda Pernyataan

Berita Terbaru